Lidia duduk di kursi dapur mendengarkan obrolan ibunya. Hari itu ada seorang teman akrab ibunya datang berkunjung. Namanya tante Lana. Dia adalah misionari, yaitu hamba Tuhan yang pergi untuk mengabarkan Injil ke negara lain.
Lidia sangat tertarik mendengar cerita yang dialami tante Lana dalam pelayanannya ke Thailand. “Kami pergi ke desa-desa untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang sama sekali belum pernah mendengar nama Yesus,” ujar tante Lana.
Lidia heran dan tidak dapat membayangkan bagaimana Tante Lana berani pergi ke tempat jauh yang belum dikenalnya naik pesawat terbang. “Hiii, aku sih tak akan berani ikut,” katanya dalam hati.
“Tahukah kamu, pada suatu hari ada seorang misionari datang ke suatu desa dan membawa sebuah boneka tua yang sudah tak disukai anaknya lagi. Lalu dia memberikan boneka itu kepada seorang anak kecil yang sama sekali belum pernah melihat boneka. Betapa senangnya anak itu mendapat sebuah boneka. Melihat kebaikan hati misionari itu, penduduk desa akhirnya mau menerima kedatangan misionari itu. Akhirnya Injil Tuhan Yesus bisa dikabarkan kepada mereka,” cerita tante Lana.
Mata Lidia terbelalak mendengar kisah itu. Bayangkan, ada anak yang sama sekali belum pernah punya boneka! Lidia sendiri punya beberapa boneka. Ada yang dari kain, karet, plastik, wah pokoknya banyak deh. Nama-namanya saja sudah banyak yang Lidia lupa. Tapi ada satu boneka yang paling disayang, namanya Vivi. Vivi adalah hadiah ulang tahun dari orang tuanya.
Vivi adalah boneka paling cantik dari semua boneka yang pernah dilihat Lidia. “Wah, sudah siang. Aku harus pulang,” kata tante Lana sambil melihat jam tangannya.
“Kami akan berdoa untukmu tiap hari, Lana. Surati kami setibamu di Thailand nanti. O ya, sebentar, aku ambil kertas dan pen untuk menulis alamatmu di sana,” kata ibu Lidia sambil berdiri. Lidia juga berdiri dan setengah berlari menuju kamarnya. Di dalam kamar, Lidia memandang semua boneka dan mainannya yang tersusun di lemari kaca. Lalu ia mulai mengambil boneka-boneka yang sudah tua, beberapa baju boneka dan beberapa boneka dari karet. Boneka-boneka yang dipilihnya sudah rusak semua. Ada yang tangan kirinya sudah copot, ada yang rambutnya sebagian sudah lepas, ada yang kancing matanya sudah lepas.
Di saat Lidia menggendong boneka-boneka itu, matanya melihat Vivi yang sedang tersenyum manis di raknya. Sesaat hati Lidia merasa bersalah. Tapi dia langsung berlari menghampiri ibunya. “Mama, aku mau menyumbangkan boneka-boneka ini buat anak-anak Thailand.”
“Oh, baik sekali anakku. Engkau tidak mementingkan diri sendiri. Ayo kita bersihkan boneka-boneka iniĀ dan membungkusnya baik-baik. Lana, maukah kau menunggu kami sejenak?” tanya ibu Lidia kepada tante Lana.
“Oh, tentu. Aku akan membantu kalian membersihkannya.”
“Lidia, ambilkan mama kertas kado yang ada di perpustakaan nak.”
Lidia bergegas untuk pergi mengambil kertas yang diminta ibunya. Pada waktu kembali, ia melihat semua boneka tua itu sudah dibersihkan dan siap untuk dibungkus. Tiba-tiba hatinya tersentak. Seolah didengarnya firman Tuhan yang pernah dihafal di sekolah minggu: “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kisah Rasul 20:35).
“Nah, aku kan sudah memberi” kata Lidia dalam hati dengan kesal. “Kok aku tidak merasa bahagia? MENGAPA?” Lidia memang telah memberikan beberapa bonekanya, tapi hatinya sendiri sadar, yang ia berikan adalah boneka yang sudah tua dan bukan yang terbaik. Lidia teringat ibunya selalu berkata, “Ingat Lidia, utamakan orang lain.” Lidia sadar, saat ini ia telah mementingkan diri sendiri.
“Tunggu sebentar, mama. Jangan bungkus dulu. Ini bukan boneka yang mau kuberi.” Lidia berlari kembali ke dalam kamarnya. Dipandanginya Vivi lekat-lekat. “Oh Vivi termanis, boneka kesayanganku.” Vivi tersenyum kepadanya. Matanya biru jernih, pakaiannya berenda dan berlipit, rambutnya berpita biru. Seolah Vivi berkata kepada Lidia, “Berikanlah aku kepada anak kecil yang tidak pernah punya boneka.” Ya berikan yang terbaik untuk orang lain! Air mata Lidia mulai bertetesan di saat ia mengambil Vivi. “Oh, Vivi. AKu bukan tidak sayang lagi kepadamu. Tapi engkaulah yang terbaik yang aku punya. Aku harus belajar memberi yang terbaik buat orang lain.”
Perlahan ia berjalan menuju dapur sambil memeluk Vivi erat-erat. “Mama, inilah boneka yang akan kuberikan.”
“Sungguhkah boneka ini yang mau kauberikan, Lidia?” Lidia hanya mengangguk sambil menahan air matanya agar tak menetes ke lantai. Lidia berharap Vivi akan mengerti.
Minggu-minggu berlalu sejak Vivi dibawa oleh tante Lana ke Thailand. Kadang Lidia merasa amat rindu kepada Vivi. ‘Di mana Vivi sekarang, ya. Mungkin dia sudah bermain dengan seorang anak Thailand’ pikirnya. Tiap hari Lidia berdoa untuk tante Lana dan anak Thailand yang akan mendapat Vivi.
Suatu ahri tiba sepucuk surat dari tante Lana. Semua berkumpul untuk membaca. Sewaktu ayah Lidia membuka surat itu, ada sebuah foto terjatuh. Lidia mengambilnya dan dengan segera matanya bersinar bahagia. Ini foto Vivi! Vivi dengan senyum manisnya sedang dipeluk oleh seorang anak perempuan kecil. Di belakang foto itu tertulis, “Anak ini berumur tujuh tahun. Vivi adalah satu-satunya boneka yang ia punya. Kami telah menceritakan Tuhan Yesus kepadanya dan kepada seluruh keluarganya.” “Bolehkah aku memiliki foto ini, mama?”
“Tentu, sayang” sahut ibunya sambil tersenyum lembut. Lidia segera berlari ke kamar dan meletakkan foto itu di rak bonekanya. Dulu Vivi yang ditaruh di situ. Sekarang foto Vivi dapat dilihatnya setiap hari. Alangkah bahagianya! ‘Memang lebih bahagia memberi daripada menerima’ kata Lidia dalam hati. Lalu mulailah ia berdoa untuk Vivi dan teman barunya di Thailand.
(Disadur dari The Best Doll fo Thailand, Evangelizing Today’s Child, Kezia)