“Huh, apa itu agama Kristen? Percaya Tuhan mati! Tuhan kok bisa mati, itu sih bukan Tuhan, dong…!” Pernahkah suatu kali kamu mendengar kalimat seperti ini? Dan dapatkah kamu memberi penjelasan kepada temanmu itu bahwa apa yang dikatakannya tidak benar? Tapi barangkali kamu tidak mampuĀ memberi penjelasan yang benar. Kamu diam dan tidak berkata apa-apa. Atau kamu “ngotot” memberi penjelasan, tapi penjelasanmu ngawur karena kamu sendiri tidak sungguh-sungguh tahu bagaimana caranya memberi penjelasan yang tepat. Uh, gemes ya…
Ada seorang yang bernama Justin Martir. Ia pernah dan bahkan seringkali diejek oleh orang-orang yang tidak percaya Tuhan Yesus. Mereka sebetulnya salah mengerti akan apa yang dipercaya oleh orang Kristen. Justin ingin membantu mereka sehingga dapat mengerti dengan benar siapa sesungguhnya Tuhan Yesus itu. Justin belajar dengan tekun mendalami Alkitab. Dan ia juga mempelajari mengapa orang-orang itu sulit mengerti akan iman Kristen. Justin mengasihi mereka dan Justin ingin agar mereka bisa menerima kebenaran Tuhan dengan tepat. Untuk itu setelah belajar bertahun-tahun lamanya, akhirnya Justin bisa menyelesaikan 2 buah buku yang amat penting.
Tapi apakah semua orang senang membaca buku itu? Ternyata tidak semua! Orang-orang Kristen memang senang karena buku-buku Justin diharap akan dapat mengatasi penghinaan dan ejekan dari orang-orang yang belum percaya, tapi orang-orang kafir itu sendiri malah marah setelah membacanya. Apalagi membaca buku Justin yang kedua. Di buku itu ia memprotes perlakuan yang amat kejam terhadap orang-orang Kristen yang tinggal di Roma. Justin dengan tegas mengatakan bahwa tindakan itu amat tidak adil. Orang Kristen tidak pernah mengganggu orang lain dan tidak berbuat jahat, tapi mengapa terus dikejar-kejar dan dibunuh dengan amat kejam?
Selama ini tidak ada yang berani membela diri seperti Justin. Meskipun orang Kristen dikejar, dianiaya, disiksa dan dibunuh, tidak ada yang melawan. Semua pasrah menerima perlakuan semena-mena itu. Tapi bagi Justin, itu bukan sikap yang tepat. Ia menganggap orang Kristen perlu memprotes perlakuan yang tidak adil itu. Berhasilkah usaha Justin? Sayang sekali, usahanya kurang berhasil. Protesnya bukan diterima oleh orang-orang jahat itu, tapi malah membuat mereka ingin membunuh Justin. Kini Justin yang dikejar dan ingin dibunuh mereka. Dalam menghadapi ancaman itu, apakah Justin kemudian mencabut kembali protesnya sambil mengatakan, “Oh, kalian marah ya? Maafkan saya deh, waktu itu saya salah tulis sih…” Begitu???! Sama sekali tidak! Justin sadar benar akan resiko yang akan dihadapinya. Justin siap, sekalipun harus mati. Justin sama sekali tidak berniat untuk mencabut kata-katanya.
Pada akhirnya, dengan berani Justin menantang kematian yang datang. Dengan gagah Justin menerima hukuman mati yang amat kejam dari pemerintah Romawi yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Tapi Justin tidak menyesal. Usianya hanya 65 tahun (100-165 AD). Tapi di dalam hidup yang begitu singkat, Justin telah menularkan keberanian kepada orang-orang Kristen lain untuk membela Injil. Pengaruh Justin amat besar bagi Gereja. Namanya kemudian dikenal sebagai Justin Martir, artinya orang yang berani mati untuk kebenaran Tuhan.
Sumber: Majalah Kristen untuk Anak-anak