Pagi ini di peternakan paman, aku lupa menutup pasak kayu pada kandang ayam. Waktu teringat, ayam yang tertinggal hanya tua dan gemuk. Berlusin-lusin ayam lain sudah kabur melalui pagar. Aku tidak merasa kuatir akan hal itu. Aku punya seribu satu cara untuk mengatasinya.Oh ya, perkenalkan namaku Jordan. Boleh dibilang aku ini anak jenius lho. Kenapa? Sebab tanpa perlu berbohong, aku bisa mengelak dari segala macam kesulitan.
“Jorrrdan!” Bibi alias tanteku Trudi yang berukuran besar berdiri di depan kandang ayam. Suaranya yang keras membuatku bergidik.
“Jorrrrdan!” teriaknya. Matanya mendelik begitu melihatku. “Kemari kau, lihat apa yang terjadi?”
Aku menghampirinya perlahan-lahan sambil memutar otak untuk memberi alasan yang tepat. Aha! Mucul satu jalan keluar dari otakku.
“Jordan,” kata tante sambil berkacak pinggang, “Sebagian ayamku sudah kabur entah ke mana dan sisanya ribut berkotek-kotek. Kurasa engkau sudah melakukan sesuatu yang menakutkan mereka. ‘Uh! Justru aku tidak berbuat apa-apa. Aku kan sedang sibuk menghitung telurnya’ ujarku dalam hati. Tapi kalau aku menjawab tante Trudi seperti itu, bisa putus talingaku dijewernya! Maka kucoba kecerdikanku untuk menjawabnya. “Mungkinkah seekor anjing liar besar mendorong kayu itu dengan hidunngnya?” tanyaku. “Lalu dia lari ketika aku datang?” Apakah aku berbohong? Tentu tidak. Saya kan hanya mengajukan beberapa pertanyaan saja.
“Anjing liar! Mau memakan ayam-ayamku yang berharga ini?”
Aku angkat bahu. Ajaib bukan, kesimpulan yang ia ambil sendiri. Nggak ada yang rugi bukan?
“Kemana anjing itu?” tanyanya.
“Kamu kenal bentuknya nggak?”
Aku memperlihatkan tanganku, mudah-mudahan dengan melihat lukaku dia pikir aku mengejar anjing itu hingga ke semak-semak. Betapa kaget ia melihat darahku.
“Anjing itu menggigitmu?”
Ehm, hasilnya lebih baik dari yang aku harapkan.
“Aku ada di semak-semak, ke tempat ayam-ayam itu lari.” Omonganku ini benar, bukan?
“Cepat masuk ke rumah,” katanya sambil tergesa-gesa. Di dalam rumah, tante memberikan obat dan membalut lukaku.
“Nggak apa-apa deh, anjing itu mengejar-ngejar ayam,” katanya.
“Tapi kalau sampai menggigit kamu, wah, bisa berabe.” Aku terdiam sambil melihat dia memberi plester obat. Mukanya serius amat. Tiba-tiba ia berkata, “Mungkin anjing itu ada penyakit rabies. Anjing yang menyerang orang tanpa alasan.”
“Rabies?”
“Ya. Apakah mulut anjing itu berbusa?”
“Aku nggak lihat,” jawabku. Benar kan.
“Nggak apa-apa. Kamu perlu disuntik anti rabies.”
“Disuntik anti rabies?”
“Sakit sedikit tak apa-apa, karena rabies adalah penyakit menular yang mematikan.”
“Disuntik anti rabies?” kataku lagi.
Dia mengangguk. “Anjingnya perlu dicari dulu.” Segera dia pergi dan menelpon.
Celaka nih!
Tom? Ini tetanggamu, Trudi. Jangan biarkan anakmu main-main di luar, suruh mereka masuk. Nanti saya jelaskan. Dan.. Tom..ambil senapanmu.”
Senapan? pikirku.
“Kita tidak boleh membiarkan anjing itu berkeliaran.”
“Tante Trudi…” kataku.
“Kamu segera ke loteng, berbaring di kamarmu. Jika suhu badanmu tidak naik, kita boleh menunda ke rumah sakit sampai anjing itu ketemu.” Ia membimbingku ke kamar. “Ingat, jangan bergerak-gerak. Saya akan menelpon yang lain untuk membantu mencari anjing itu.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara mobil di belakang rumah. Aku mengintip dari gorden. Ada empat orang datang. Semuanya membawa senapan. Aduh, rasanya keringat dingin keluar dan jantung berdebar-debar. Cara apa yang dapat mengeluarkan aku dari kekacauan ini? Apalagi aku tidak diizinkan keluar ruangan. Kemudian aku agak lega sedikit: Mereka tentunya tidak dapat menemukan anjing itu karena memang tidak ada. Tetapi aku tergidik ketika berpikir: sebuah jarum besar akan menyuntik pantatku.
Saya mulai gelisah sendiri. Rabies atau tidak, aduh tegang sekali. 15 menit kemudian tante Trudi memanggilku. “Jordan! Coba mengintip keluar! Aku menarik gorden sedikit. Di bawah, tante dan keempat orang itu mengikat anjing hitam yang gede. Di mana mereka mendapatkannya?
“Yang ini?” teriaknya.
Saya berpikir sejenak. Pasti anjing itu hanya anjing liar. Mereka akan membawanya ke dokter untuk mencek rabiesnya, tentu nggak ada. Mereka akan melepaskannya. Tidak ada rabies, dan aku tidak akan disuntik. Dan anjing itu tentunya tidak dapat protes bahwa bukan dia yang mengejar ayam-ayam itu. Sip deh.
“Jordan, yang ini bukan?”
“Kelihatannya ya,” kataku. Cara tidak berbohong yang paling kreatif.
Lalu mereka membungkus anjing itu di karung dan membawanya ke gudang. Apa yang akan mereka lakukan?
Aku cepat-cepat turun menemui tante Trudi. Keempat orang itu telah pergi.
“Apakah mereka membawanya ke dokter hewan?” tanyaku.
Tante menggeleng kepala. “Rabies sangat bahaya. Mereka menembaknya dulu, lalu membawanya ke dokter untuk dites.” Aku menjadi sedih.
“Jordan, kenapa?”
Aku segera lari dan berteriak, “Jangan tembak! “Jangan tembak!” Tapi sebelum tiba di gudang, aku mendengar dua tembakan. Aku jatuh berlutut dan tanpa sadar menangis sampai tante Trudi tiba dan merangkulku.
“Ada apa, Jordan?”
“Mereka membunuh anjing yang tak bersalah,” kataku sambil terisak-isak.
“Tetapi Jordan, kamu bilang…”
“Aku membiarkanmu berpikir demikian,” kataku, air mataku meleleh. “Tetapi aku tidak pernah berpikir…” Aku ceritakan yang sebenarnya.
Tante membantuku berdiri. “Tom,” teriaknya, “Yuk, ke rumah untuk minum kopi.”
Ketika aku masih mengusap air mataku, keempat orang itu keluar dari gudang. Oh,… ada seekor anjing hitam yang besar mengikuti mereka.
“Anjing itu…tidak mati?”
“Tentu, Jordan. Kamu pikir tantemu ini bodoh, tak bisa membedakan luka karena goresan atau digigit anjing? Ketika saya membalut lukamu, saya mulai berpikir.”
“Maksudmu…”
“Begitu saya membawamu naik ke loteng, saya akan segera menelepon Tom kembali untuk membuat satu rencana kecil,” kata tante, sambil merangkulku. “Tom menyembunyikan anjingnya di belakang mobil, ketika kami yakin kamu tidak melihatnya, kami lalu mengikatnya. “Saya terus menunggu kapankah kamu akan menceritakan yang benar. Tante bersyukur kepada Tuhan, akhirnya kamu mengatakannya juga.”
Aku tersenyum kecut.
“Jordan, ingatlah dua tembakan itu menyadarkanmu untuk berkata jujur. “Kamu harus menggali lubang selama 5 jam untuk mengganti ayam-ayam yang hilang.”
Tom dan yang lainnya datang mendekat. Tiba-tiba aku sadar ada air mata di wajahku.
“Saya tersandung, mata saya kena debu jadi berair,” aku mulai lagi otomatis berkata bohong . Tapi aku ingat dua tembakan di gudang. “Yang benar, saya menangis seperti anak kecil,” jawabku cepat. “Mm, boleh nggak saya memelihara anjing itu?”
Dari Too Chicken to Tell, oleh Sigmund Brouwer.
Disadur oleh Effendi Susanto